Parameter Kualitas Air

·

·

,

Air adalah salah satu sumber daya terpenting bagi kehidupan. Baik untuk kebutuhan minum, pertanian, irigasi, industri, atau sebagai habitat ekosistem, air harus memenuhi kualitas tertentu agar aman bagi manusia dan lingkungan. Namun dalam kenyataannya, kualitas air di banyak wilayah Indonesia masih menghadapi tekanan berat dari pencemaran — baik oleh limbah domestik, industri, maupun aktivitas manusia lainnya. Untuk menilai kondisi suatu badan air, digunakan parameter kualitas air, yang dibagi menjadi tiga kategori utama: fisika, kimia, dan biologi. Artikel ini merangkum jenis-jenis parameter tersebut, bagaimana pengukuran dilakukan, dan apa artinya dalam konteks situasi kualitas air aktual di Indonesia saat ini berdasarkan data dan berita terkini.

Parameter kualitas air adalah indikator yang digunakan untuk menilai kondisi air di suatu badan air, apakah masih layak digunakan sesuai peruntukannya atau sudah tercemar. Parameter ini perlu diukur secara periodik dan sistematis agar hasilnya dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, pengendalian pencemaran, dan penyusunan kebijakan pengelolaan lingkungan.

Berita pemantauan terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menunjukkan bahwa mayoritas sungai di Indonesia masih dalam kondisi tercemar, khususnya akibat limbah domestik dan industri. Sekitar 70,7 persen lokasi sungai berada dalam kategori tercemar sedang pada semester I 2025.

Parameter fisika menggambarkan kondisi air secara visual dan secara langsung berhubungan dengan kenyamanan serta karakteristik alami air. Ini sering kali menjadi parameter awal yang diukur karena mudah diamati bahkan di lapangan.

Suhu air adalah ukuran panasnya air pada suatu titik. Suhu memengaruhi reaksi kimia dan biologi dalam air, seperti laju metabolisme organisme dan kadar oksigen terlarut.

  • Mengapa penting?
    Suhu yang terlalu tinggi dapat menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air sehingga organism akuatik kesulitan bertahan hidup. Suhu tinggi juga mempercepat reaksi kimia yang tidak diinginkan.
  • Sumber perubahan suhu: Pembuangan limbah panas dari industri dan pengurangan vegetasi di sekitar sungai.

Kekeruhan adalah ukuran seberapa banyak partikel tersuspensi dalam air, yang membuat air terlihat keruh.

  • Penyebab: Lumpur, pasir, dan bahan organik dari erosi atau polusi.
  • Dampak: Turbidity tinggi menghambat penetrasi cahaya matahari sehingga proses fotosintesis ganggang terganggu.

Air yang berubah warna bisa menjadi tanda awal pencemaran, misalnya oleh limbah industri, sampah, atau bahan organik yang terurai.

  • Contoh: Air sungai yang berwarna coklat pekat atau hitam dapat menunjukkan tingginya kontaminan.

Air yang berbau menyengat atau memiliki rasa tidak normal sering kali merupakan pertanda adanya pencemaran organik atau kimia.

  • Catatan: Keberadaan bau yang kuat sering disebabkan oleh proses pembusukan organik di dalam air atau senyawa kimia berbahaya.

Parameter ini mencerminkan jumlah partikel padat di dalam air.

  • TSS (Total Suspended Solids): Ukuran padatan tersuspensi.
  • TDS (Total Dissolved Solids): Zat terlarut seperti garam dan mineral.
  • Pentingnya: Nilai tinggi TSS dan TDS dapat mempengaruhi rasa, bau, serta layak tidaknya air tersebut digunakan baik untuk konsumsi maupun habitat organisme.

Parameter kimia menunjukkan kandungan zat-zat kimia di dalam air beserta dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan. Ini adalah bagian terpenting dari penilaian kualitas air.

pH menunjukkan tingkat keasaman atau kebasaan air.

  • Normal: pH 6,5–8,5 umumnya dianggap baik untuk kehidupan air tawar.
  • Risiko: pH di luar rentang ini bisa merusak makhluk hidup akuatik dan korosif terhadap struktur bangunan.

DO menunjukkan seberapa banyak oksigen dalam air yang tersedia bagi organisme untuk hidup.

  • Indikator kesehatan: Sungai sehat biasanya memiliki DO > 5 mg/L.
  • Masalah: DO rendah sering kali menunjukkan adanya polutan organik tinggi yang dikonsumsi mikroorganisme, sehingga menyedot oksigen dari air.

BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dibutuhkan mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik.

  • Nilai tinggi: Menandakan banyak materi organik dalam air — sering kali akibat limbah domestik atau limbah pertanian.
  • Kondisi ini dapat menyebabkan ekosistem air kekurangan oksigen.

COD mengukur jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan kimia organik dan anorganik.

  • Perbandingan dengan BOD: COD mencakup oksidasi kimia lebih luas dibanding BOD yang hanya oksidasi biologis.
  • Interpretasi: Nilai COD tinggi menandakan pencemar kimia yang cukup kuat.

Nutrien seperti nitrat dan fosfat berasal dari pupuk, limbah domestik, atau peternakan.

  • Dampak: Kadar nutrien tinggi dapat menyebabkan eutrofikasi — pertumbuhan ganggang yang tak terkendali, yang kemudian menyerap oksigen dan merusak ekosistem air.

Contoh logam berat termasuk timbal (Pb), merkuri (Hg), dan kadmium (Cd).

  • Bahaya: Sangat toksik bagi manusia dan organisme lainnya bahkan dalam konsentrasi rendah. Logam berat sering kali berasal dari limbah industri yang tidak diolah dengan baik.

Sering berasal dari limbah industri dan rumah tangga.

  • Efek: Menghambat pertukaran oksigen di permukaan air dan berdampak buruk pada organisme air.

Parameter biologi berkaitan dengan organisme hidup di dalam air atau indikator biologis yang mencerminkan kualitas air.

Total coliform adalah indikator bakteri yang menunjukkan kemungkinan pencemaran oleh limbah domestik.

  • Penting: Jumlah coliform yang tinggi menunjukkan risiko adanya bakteri patogen.

E. coli merupakan indikator pencemaran tinja manusia atau hewan.

  • Definisi: Keberadaan E. coli menunjukkan kontaminasi fekal sehingga air tidak layak dikonsumsi tanpa pengolahan.

Kedua kelompok organisme ini digunakan sebagai bioindikator jangka panjang.

  • Arti: Keanekaragaman jenis plankton dan makrozoobentos yang rendah sering kali menandakan perairan yang tercemar atau tidak sehat

Berdasarkan pemantauan terbaru oleh KLH, mayoritas sungai di Indonesia berada dalam kondisi tercemar. Sekitar 70,7% lokasi pemantauan menunjukkan status tercemar sedang berdasarkan berbagai parameter seperti BOD, COD, DO dan lain-lain. Hanya sekitar 29,3% lokasi yang memenuhi baku mutu yang ditetapkan.

Namun dari sisi positif, KLH juga melaporkan peningkatan kualitas mutu air di 1.066 sungai pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun masih mayoritas dalam kategori tercemar ringan. Ini menunjukkan tren pengendalian pencemaran yang mulai terlihat namun belum mencukupi.

Studi kualitas air di Sungai Citarum menunjukkan bahwa beberapa parameter seperti DO, BOD, COD, dan E. coli masih melebihi baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, sehingga sungai ini masih dikategorikan sebagai tercemar ringan berdasarkan Indeks Pencemaran.

Limbah domestik yang masuk langsung ke sungai secara signifikan memengaruhi nilai BOD dan COD, indikator penting dalam parameter kualitas air. Lokasi yang banyak menerima aliran limbah domestik atau tumpukan sampah cenderung menunjukkan peningkatan BOD dan COD yang menandakan pencemaran organik.

Parameter kualitas air digunakan untuk:

  1. Menentukan Status Mutu Air
    Mengetahui apakah air berada dalam kondisi baik, tercemar ringan, sedang atau berat membantu perencanaan pengendalian pencemaran.
  2. Menilai Kel
    ayakan Air
    Kualitas air dievaluasi untuk berbagai tujuan seperti air minum, irigasi, perikanan, dan industri.
  3. Dasar Pengendalian Pencemaran Air
    Data parameter digunakan oleh pemerintah dan lembaga lingkungan untuk membuat kebijakan dan tindakan penegakan hukum.
  4. Pemantauan Dampak Aktivitas Manusia
    Setiap aktivitas domestik, industri, atau pertanian yang berdampak pada kualitas air dapat terdeteksi melalui perubahan parameter kualitas air.

Parameter kualitas air adalah indikator fundamental yang digunakan untuk menilai kondisi badan air secara holistik — fisik, kimia, dan biologis. Dalam konteks situasi saat ini, data pemantauan menunjukkan bahwa mayoritas sungai di Indonesia masih tercemar, meskipun ada perbaikan di beberapa lokasi. Pengukuran parameter seperti DO, BOD, COD, pH, TSS, TDS, coliform dan E. coli memberi gambaran nyata tentang sumber pencemaran dan dampaknya pada lingkungan serta kesehatan manusia.

Pemantauan yang rutin dan akurat, penggunaan parameter yang tepat, serta tindakan yang cepat berdasarkan hasil pemantauan menjadi kunci dalam menjaga kualitas air untuk generasi sekarang dan yang akan datang.

  1. Mayoritas sungai di Indonesia dalam kondisi tercemar menurut KLH.
  2. Peningkatan kualitas mutu air di sejumlah sungai pada 2025.
  3. Studi indeks pencemaran air di Sungai Citarum.
  4. Analisis parameter kualitas air dan definisinya.
  5. Pengaruh limbah domestik pada parameter BOD dan COD.